Penanganan bahan infeksius tidak bisa dilakukan sembarangan, apalagi jika berhadapan dengan suhu lingkungan yang panas, seperti di Indonesia. Paparan suhu yang tidak sesuai dapat memicu perubahan karakteristik sampel, bahkan bisa membuat hasil pengujian jadi tidak akurat. Karena itu, kontrol suhu jadi faktor penting sejak pengambilan sampel, penyimpanan, hingga proses analisis di laboratorium.
Tantangan yang sering muncul adalah jarak jauh antara tempat pengambilan sampel dan laboratorium uji, cuaca panas, dan tidak tersedia alat pendingin saat pengiriman. Jika tidak diatasi, sampel bisa jadi rusak sebelum diuji. Nah, bagaimana cara penanganan bahan infeksius agar sampel tetap terjaga dan aman sampai pengujian? Yuk, simak tipsnya disini!
Apa yang Dimaksud dengan Bahan Infeksius?

Membahas mengenai penanganan bahan infeksius, apakah Anda tahu apa sih yang sebenarnya dimaksud dengan bahan infeksius? Nah, Bahan infeksius adalah material yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit yang berpotensi menyebabkan infeksi.
Dalam dunia kesehatan dan ilmu sains, bahan ini bisa berasal dari sampel darah, jaringan tubuh, cairan biologis, hingga hasil kultur mikroba. Karena sifatnya yang sensitif dan berisiko, bahan infeksius tidak bisa diperlakukan seperti sampel biasa.
Selain berbahaya bagi manusia, bahan infeksius juga mudah mengalami perubahan jika tidak ditangani dengan benar. Suhu, waktu, dan cara penyimpanan sangat berpengaruh pada kondisi sampel. Kalau terlalu panas, kualitas sampel bisa berubah bahkan rusak. Itulah kenapa penanganan bahan infeksius perlu perhatian ekstra.
5 Tips Penanganan Bahan Infeksius agar Aman, Tidak Rusak karena Suhu

Dalam menangani bahan infeksius, suhu, kebersihan, hingga metode penyimpanan menjadi faktor penting yang harus dijaga. Selain untuk menjaga kualitas sampel, penanganan bahan infeksius yang tepat juga diperlukan untuk menjaga keselamatan petugas laboratorium. Nah, ada beberapa tips yang bisa membantu menjaga kondisi sampel aman dan minim resiko selama penyimpanan maupun pengiriman.
1. Gunakan Wadah Penyimpanan yang Tertutup Rapat
Wadah adalah hal paling krusial karena itu yang melindungi sampel agar tidak rusak dan tidak berbahaya untuk yang menanganinya. Tentu wadah wajib tertutup rapat agar tidak kontaminasi silang dan bebas paparan lingkungan luar.
Selain itu, wadah juga harus terbuat dari material yang kuat, tidak mudah pecah, dan mampu menahan perubahan suhu. Anda bisa menggunakan tabung khusus, cryovial, atau kontainer. Alat-alat penyimpanan ini juga bisa membantu menjaga stabilitas sampel sehingga aman sampai pengujian.
2. Jaga Suhu Stabil Selama Perjalanan dan Penyimpanan
Bahan infeksius sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Sedikit saja suhu naik, kualitas sampel bisa langsung menurun dan hasil analisis jadi kurang akurat. Karena itu suhu harus dijaga tetap stabil dari awal penyimpanan sampel laboratorium, selama pengiriman, dan sampai pengujian.
Untuk kondisi yang membutuhkan suhu sangat rendah, Anda bisa menggunakan dry ice. Dry ice mampu menjaga suhu tetap dingin dalam waktu lama tanpa perlu listrik, sehingga cocok untuk pengiriman jarak jauh atau penyimpanan sementara.
3. Gunakan Pelindung Tubuh dan Prosedur yang Sesuai Standar Penanganan Bahan Infeksius
Penanganan bahan infeksius tidak hanya soal menjaga suhu, tapi juga bagaimana sampel diperlakukan oleh petugas. Penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, dan pelindung wajah penting untuk mencegah kontaminasi silang. Kontaminasi ini bisa berasal dari tangan, udara, atau permukaan kerja yang tidak steril.
Selain untuk melindungi sampel agar tetap aman, hal ini juga berfungsi untuk melindungi petugas laboratorium. Saat proses pemindahan atau pengemasan, pastikan sampel tidak sering dibuka-tutup dan tetap berada dalam wadah tertutup rapat.
4. Batasi Paparan Sampel terhadap Suhu Ruang
Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat penanganan bahan infeksius adalah membiarkan sampel terlalu lama berada di suhu ruang. Padahal, perubahan suhu meski sebentar bisa memicu degradasi biologis di dalam sampel. Akibatnya, kualitas sampel menurun sebelum diuji.
Oleh karena itu, proses pengiriman sampel laboratorium perlu dilakukan secepat mungkin. Jika harus berpindah lokasi, pilih ekspedisi yang menyediakan pengiriman suhu rendah atau freezer. Jika tidak memungkinkan, penggunaan dry ice akan sangat membantu menjaga suhu tetap rendah dan stabil.
5. Pastikan Label dan Identitas Jelas
Terakhir dan yang paling penting adalah setiap sampel bahan infeksius wajib diberi label yang jelas dan mudah dibaca. Label ini berisi identitas sampel, tanggal pengambilan, dan informasi penanganan khusus. Jika labelnya sesuai, maka risiko tertukar atau salah perlakuan bisa dihindari sejak awal.
Selain itu, gunakan stiker khusus bahan infeksius dan suhu penanganan pada kemasan. Stiker ini berfungsi sebagai penanda agar semua pihak yang menangani sampel lebih waspada. Keberadaan label suhu juga membantu memastikan sampel tetap berada dalam kondisi dingin yang aman selama penyimpanan maupun pengiriman.
Nah, tips yang disebutkan di atas sederhana dan mudah kan? Penanganan bahan infeksius yang tepat bukan hanya menjaga keamanan sampelnya saja tapi juga penjagaan agar tidak berbahaya bagi yang menanganinya. Akhirnya, hasil analisis laboratoriumnya pun bisa lebih akurat.
Butuh Suhu Dingin Kirim Sampel, Ini Solusinya!

Untuk menjaga sampel laboratorium tetap dingin, dry ice bisa jadi solusi. Suhu rendahnya stabil jadi risiko kerusakan sampel bisa dicegah. Dry ice juga sering digunakan untuk menciptakan efek asap atau kabut pada pesta atau foto-foto agar lebih dramatis.
Nah, Atlantic Dry Ice siap memenuhi kebutuhan dry ice Bekasi dan area sekitarnya. Produk yang disediakan berkualitas, bisa disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Pelayanannya cepat dan responsif. Apapun keperluannya Atlantic Dry Ice siap bantu!
Share this:
- Click to share on Facebook (Opens in new window) Facebook
- Click to share on X (Opens in new window) X
- Click to email a link to a friend (Opens in new window) Email
- Click to share on LinkedIn (Opens in new window) LinkedIn
- Click to share on X (Opens in new window) X
- Click to share on Tumblr (Opens in new window) Tumblr
- Click to share on Pinterest (Opens in new window) Pinterest
- Click to share on Telegram (Opens in new window) Telegram
- Click to share on WhatsApp (Opens in new window) WhatsApp